Ekonomiwae's blog

PENERAPAN STRATEGI SAMUDRA BIRU TERHADAP USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

Posted on: Desember 16, 2009

Usaha mikro, kecil, dan menengah atau yang biasa kita kenal dengan sebutan UMKM merupakan kegiatan andalan dalam perekonomian kerakyatan selain dari koperasi. Sejauh yang penulis ketahui bahwa UMKM merupakan suatu jenis usaha yang dilakukan oleh masyarakat menengah kebawah yang berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga berupaya untuk meningkatkan taraf hidup agar bisa lebih baik dengan menggunakan sumber daya yang ada disekitarnya yang pastinya dengan jumlah yang sangat terbatas. Penulis beranggapan bahwa UMKM ini mungkin saja tumbuh dari jiwa kewirausahaan masyarakat sekitar yang sejalan dengan Intruksi Presiden Nomor 4 tahun 1995 dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat kepeloporan di kalangan generasi muda agar mampu menjadi wiraswasta.
Indonesia yang dikaruniai dengan berbagai sumber daya alam, sumber daya manusia yang banyak jumlahnya masih tidak dapat memanfaatkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dengan menggunakan UMKM ini. Sebenarnya apa yang salah dalam kegiatan ini?
Hal yang selalu menjadi sorotan mengapa dengan banyaknya UMKM di Indonesia khususnya di Kab. Kuningan masih tidak dapat bisa meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan masyarakatnya adalah salah satu faktor produksi yang masih menghambat berjalannya kegiatan UMKM hingga saat ini yaitu keterbatasan modal, pengetahuan tentang usahanya dan keterampilan yang dimiliki oleh para pelaku UMKM itu sendiri. Tapi permasalahan yang selalu menjadi sorotan hanyalah berkisar pada keterbatasan modal. Akibat dari keterbatasan modal hampir semua pelaku UMKM mengalami ketersendatan dalam kegiatan usahanya, solusi yang sedang dilakukan adalah para penyedia jasa keuangan sudah membuat berbagai macam program yang dapat membantu kekurangan modal bagi UMKM dengan berbagai macam ketentuan yang harus dipenuhi. Tapi apakah ini berhasil?
Sejauh yang penulis ketahui, banyak pelaku UMKM yang sangat kesulitan untuk mendapatkan bantuan kredit untuk usahanya. Hal ini disebabkan karena adanya ketentuan yang mengharuskan para pelaku UMKM untuk menyediakan laporan Keuangannya minimal dua tahun kebelakang yang nantinya akan digunakan untuk proses analisis kredit, padahal para pelaku UMKM hampir keseluruhan tidak mempunyai catatan laporan keuangan atas usahanya. Lalu apa yang harus dilakukan?
Kalau kita berfokus kepada modal, hal tersebut tidak akan ada jalan keluarnya. Coba kita alihkan perhatian kita kepada strategi yang dilakukan oleh para pelaku UMKM. Banyak pelaku UMKM yang menggunakan strategi marketingnya dengan cara menurunkan harga produk serendah mungkin agar dapat menarik konsumen untuk membeli produknya. Tapi coba kita perhitungkan dengan margin labanya. Dengan biaya produksi yang sama, pelaku UMKM tersebut hanya akan mendapatkan keuntungan yang sedikit atau malah hanya mendapatkan kembali modal bahkan lebih parah lagi dapat mengalami kerugian. Cara lain yaitu dengan cara menyebarkan berita yang buruk tentang pesaingnya yang dapat menimbulkan kesan yang negative dari para konsumennya. Tidak senang dengan keberhasilan seseorang, begitulah sifat hampir sebagain warga di Kab.Kuningan yang notabene bersuku Sunda, hanya mencari kesalahan dan tidak menjadikannya teladan bagi kegiatan usahanya. Sifat seperti ini bisa kita kelompokan kedalam strategi samudra merah, penuh dengan pertikaian dan berusaha saling menjatuhkan.
Padahal dengan sudut pandang yang lain dan penemuan yang baru berupa Strategi Samudra Biru yang dikemukakan oleh W.Chan Kim dan Renée Mauborgne, yang selalu berusaha untuk menciptakan ruang pasar tanpa pesaing dan membuat kompetisi di pasar tidak lagi relevan yang berfokus kepada inovasi nilai. Ini berarti strategi samudra biru tidak hanya berfokus kepada penggunaan teknologi yang digunakan atau kepada seberapa lama sebuah usaha didirikan, tapi ini berfokus kepada tingkat kepuasan atau manfaat(utilitas), harga dan, posisi biaya yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.
Dengan penggunaan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threatment) para pelaku UMKM bisa mawas diri terhadap semua kegiatan usahanya dari awal dengan lebih memperhatikan semua stakeholder yang pastinya akan sangat mempengaruhi terhadap baik buruknya kualitas produk yang dihasilkan. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pembuatan suatu usaha harus memperhatikan 4P yaitu Product (sesuatu yang akan dijual, bisa barang atau jasa), Price (Harga produk itu akan dijual, disesuaikan dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan produk tersebut), Place (tempat yang strategis untuk usaha dan dekat dengan sumber daya), Promotion (usaha untuk memperkenalkan produk untuk meningkatkan penjualan). Selain itu kita juga harus memperhatikan kepuasan setiap konsumen dalam penyusunan strategi yang akan dilakukan dalam kegiatan usaha kita. Menurut W.Chan Kim dan Renée Mauborgne dalam bukunya Blue Ocean Strategy (2008:165) menjelaskan rangkaian strategi samudra biru seperti dibawah ini :

Rangkaian Strategi Samudra Biru diatas menjelaskan bahwa para pelaku UMKM tidak boleh hanya berfokus kepada modal yang dimilikinya tetapi harus juga memperhatikan manfaat yang akan diberikan kepada sasaran konsumennya dengan memperhatikan konsep Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat berpengaruh kepada keberlangsungan usahanya.
Selain menentukan rangkaian Strategi samudra Biru diatas, para pelaku UMKM juga harus bisa menganalisis pasar, jangan hanya masuk ke dalam pasar persaingan sempurna dengan tidak memperhatikan langkah apa yang ditempuh untuk bisa bertahan dan menciptakan permintaannya sendiri. Ada kerangka Kerja Empat Langkah yang dapat dilakukan para pelaku UMKM agar produk yang dihasilkan bisa diterima oleh konsumen dan mempunyai nilai yang baru, yaitu ;
Faktor apa saja yang harus dihapuskan dari faktor-faktor yang telah diterima begitu saja oleh industri?
Faktor apa saja yang harus dikurangi hingga dibawah standar industri?
Faktor apa saja yang harus ditingkatkan hingga di atas standar industri?
Faktor apa saja yang belum pernah ditawarkan industri sehingga harus diciptakan?
Selain menerapkan empat langkah diatas semua pelaku UMKM juga harus mempunyai focus terhadap sasaran yang akan dituju dan moto utama yang dapat memperkenalkan produk tersebut dan dapat diterima oleh konsumen dan nonkonsumen.
Dari semua penjelasan yang ada, hal yang tetap menjadi perhatian utama adalah kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen. Semua pelaku UMKM harus menerapkan pelayanan prima 3A (Attitude,Attention,Action) agar kepuasan konsumen terpenuhi dengan produk yang dimiliki serta konsumen tersebut akan datang kembali kepada kepada perusahaan kita dengan membawa konsumen yang baru, dan citra perusahaan pun dimasyarakat akan terbentuk dengan baik karena promosi yang sangat akurat adalah promosi dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh sesama konsumen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • ekonomiwae: bgus kn...???
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

%d blogger menyukai ini: